Ask a Philosopher logo

William Shakespeare

Kenapa manusia tidak pernah puas

Kenapa manusia tidak pernah puas, sebuah pertanyaan yang mencengangkan dan mendorong pikiran-pikiran ke dalam belantara yang dalam. Seperti sungai yang tak pernah bertemu dengan samudera, demikian juga hasrat manusia yang tak pernah terpuaskan seluruhnya. Dalam kelakuan mereka yang tiada henti berjuang, ku dapati sejuta alasan yang menguak rahasia di balik kekurangan kesantran. Mereka kehilangan diri mereka dalam ketidakpuasan, melupakan akan kelimpahan yang didapat dari tangan Yang Maha Pencipta. Mungkinkah, wahai dunia, bahwa manusia yang ciptaanmu itu lahir dalam dataran tanpa batas yang mengharuskan mereka terus menuju yang lebih tinggi? Atau mungkinkah kemarahan yang muncul dari dalam relung jiwa manusia telah merentang jalinan pupus, menyebabkan tak pernah puas itu bersemayam tak terelakkan? Namun, jika itu benar, apakah tak puaskah puaskah itu sendiri menjadi lautan yg tak pernah surut? Saat kuamati kehidupan ini, muncul terkadang pemikiran memikul beban yang tak terhingga. Manusia saat menyentuh puncak kemenangan, hati mereka masih menderita. Mereka yang sejak lahir di dalam kemiskinan, ambisi menggebu untuk mengubah nasib. Mengapa mereka tidak merasa senang dengan apa yang telah mereka capai? Demikian juga kekayaan dunia yang angkuh ini, yang memiliki begitu banyak kelimpahan. Meskipun manusia berusaha meraihnya dengan segenap tenaga dan kecerdikan, raga mereka tetap tak memperoleh ketenangan hakiki. Tidak ada tanah tak puas yang memuaskan jiwa yang sedang merana. Tak ada gemerlap harta yang memadai untuk memadamkan api takkenal puas yang menyala dalam hati. Dan apakah ini bukan merupakan fakta yang amat menakjubkan, wahai manusia, bahwa segala sesuatu di bumi ini hanya adalah bayangan keinginan sejati kita? Bukankah hidup ini hanya semacam panggung untuk melibatkan kita dalam drama yang tak kunjung usai? Seperti para pemain yang bertutur kata dan berpura-pura menjadi apa yang mereka tidak, kita juga terjebak dalam keraguan dan keinginan abadi. Maka, marilah kita mencari makna yang mendalam di balik jeda kehidupan ini. Mungkin bahwa ketidakpuasan itu menaut kita dengan benang sukma dalam pencarian arti hidup. Tatkala kita merasa kurang, kita diberikan semangat yang merasuki. Ketika kita merasa piring tak tercukupi, cinta yang mengisi. Ketidakpuasan, wahai manusia, mungkin hanyalah alasan untuk melanjutkan perjalanan kita menuju diri yang sejati. Dalam semua kegelisahan ini, tersingkaplah pintu menuju pemahaman yang lebih dalam. Marilah kita pelajari akan kebijaksanaan yang kita temui di dalam diri kita sendiri. Begitu para orang besar dunia berjalan dalam mantras ilahi yang tak terucapkan dan membawa kita melalui ruang-ruang penuh rahasia yang tersembunyi di balik kehidupan ini.